DERU DOMPENG MENGGILA DI KASIAK PUTIAH KAJAI: HAMPIR 50 MESIN KERUK BUMI, KE MANA APARAT?
Reporter: Tim YTV Digital
Kasiak Putiah Kajai — Deru mesin dompeng menggema tanpa henti, siang dan malam. Suara bising itu kini bukan sekadar gangguan, melainkan tanda nyata kerusakan lingkungan yang semakin parah di wilayah tersebut.
Aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) di kawasan ini dilaporkan telah mencapai skala yang mengkhawatirkan. Hampir 50 unit mesin dompeng beroperasi secara bersamaan, menggerus lapisan tanah secara masif tanpa kendali.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari kata normal. Tanah yang sebelumnya padat dan subur kini berubah menjadi hamparan lubang besar. Sebagian lubang terisi air keruh, sementara lainnya dibiarkan terbuka tanpa pengamanan. Vegetasi hilang, struktur tanah melemah, dan risiko longsor semakin nyata.
Tidak hanya merusak bentang alam, aktivitas ini juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Air yang dulunya jernih kini berubah keruh akibat sedimentasi dan limbah tambang. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius, terutama bagi warga yang masih bergantung pada sumber air alami.
“Sekarang sudah tidak bisa dikenali lagi. Tanahnya habis dikupas, lubang di mana-mana. Kalau hujan deras, kami takut longsor,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Yang menjadi perhatian publik adalah bagaimana aktivitas sebesar ini bisa berlangsung secara terbuka. Dengan jumlah mesin yang mencapai puluhan unit dan beroperasi tanpa henti, masyarakat mempertanyakan keberadaan dan tindakan Aparat Penegak Hukum di wilayah tersebut.
Skala operasi yang masif ini dinilai mustahil tidak terdeteksi. Bahkan, aktivitas berlangsung terang-terangan di lapangan, seolah tanpa hambatan.
Apakah ini bentuk kelalaian, atau justru pembiaran?
Pertanyaan tersebut kini menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Warga menyaksikan langsung bagaimana tanah dikupas secara brutal setiap hari. Namun di sisi lain, tindakan tegas yang diharapkan belum juga terlihat.
Selain itu, keberadaan puluhan mesin dompeng juga mengindikasikan adanya sistem yang terorganisir. Aktivitas dengan skala seperti ini tidak mungkin berjalan tanpa koordinasi yang kuat. Hal ini menimbulkan dugaan adanya jaringan yang lebih besar di balik praktik tambang ilegal tersebut.
Dampak jangka panjang dari aktivitas ini tidak bisa dianggap remeh. Lahan yang telah rusak akan sulit dipulihkan. Kesuburan tanah hilang, ekosistem terganggu, dan potensi bencana ekologis meningkat.
Para pemerhati lingkungan menilai bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, wilayah tersebut berpotensi berubah menjadi lahan kritis yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.
Namun di sisi lain, persoalan ini juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi. Sebagian masyarakat terlibat dalam aktivitas tambang karena keterbatasan lapangan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan penindakan, tetapi juga perlu pendekatan ekonomi yang berkelanjutan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera turun tangan. Peninjauan langsung ke lokasi, pengawasan ketat, serta tindakan tegas menjadi langkah yang mendesak untuk dilakukan.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas mesin dompeng di Kasiak Putiah Kajai masih terus berlangsung.
Deru mesin yang menggila kini menjadi simbol nyata eksploitasi yang tidak terkendali.
Publik menunggu—apakah akan ada tindakan nyata, atau kerusakan ini akan terus dibiarkan hingga terlambat?( team YTV )

